Minggu, 20 November 2016

GEREJA MLM

                                              GEREJA MLM
Tentu kita sudah pernah dengar dengan yang namanya MLM yaitu salah satu metoda bisnis yang akhir-akhir ini cukup berkembang. Dengan menjanjikan keuntungan sangat besar dengan modal sangat minimal. Biasanya dengan sistem multi level (bertingkat). Semakin banyak memiliki member level kita akan semakin meningkat, dan tentunya janji akan keuntungan akan semakin besar. Bahkan dalam level tertentu sipelaku bisnis bisa mendapatkan hadiah mobil mewah eropa dan juga kapal pesiar. Wah luar biasa bukan? Apakah selama ini diantara anda dan kenalan anda sudah ada yang berhasil mendapat kapal pesiar? Jika ada dia pasti orang yang sangat tekun dan beruntung tentunya.
Dalam ulasan ini, mohon maaf saya bukan sedang promosi salah satu bisnis MLM, atau mengajak anda untuk menjauhinya. Tapi saya akan coba mengulas penomena perkembangan gereja pada akhir-akhir ini.  Semakin banyak gereja, atau perkumpulan ibadah tentunya itu berarti semakin banyak orang percaya. Yang merupakan gambaran bahwa ke kristenan bisa diterima dengan baik. Dan juga merupakan gambaran keberhasilan gereja dalam misi zending atau penyebaran kabar baik berupa Penginjilan. Dan itu prestasi yang bagus. Tidak ada yang salah dengan hal itu.
Untuk membuka gambaran dan arah ulasan saya maka akan saya buka dengan beberapa pertanyaan.
1. Apakah semakin banyaknya gereja dan kelompok ibadah pada masa ini masih valid menunjukkan bahwa penyebaran Injil berhasil?
2. Apakah penginjilan atau Zending pada masa sekarang masih tetap pada motivasi perintah Kristus “jadikanlah segala bangsa murid-Ku?”
3. Apakah motivasi upah duniawi sudah berada di puncak hierarki?
Pertanyaan ini mungkin butuh penelitian khusus untuk menjawab secara data valid. Tapi dalam ulasan ini saya hanya mengajak pembaca mengamati dan menilai dengan jujur apa yang sedang berlangsung dalam kehidupan gereja masa kini. Baik anda sebagai jemaat biasa seperti saya atau pelaku-pelaku dalam kegiatan kehidupan fisik gereja masa kini.
Pada sejarah gereja mula-mula kita bisa melihat bagaimana perjuangan para rasul membentuk pondasi awal jemaat jemaat kristen awal. Bagaimana Rasul Paulus meminta bantuan dana dari jemaat Korintus untuk jemaat Yerusalem (2 Kor:9). Bagimanapun sejak gereja mula-mula mengumpulkan uang sudah (mungkin persembahan masa kini) dianjurkan. 1 Korintus 16:2 (TB)  Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing — sesuai dengan apa yang kamu peroleh — menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah, supaya jangan pengumpulan itu baru diadakan, kalau aku datang.
 dan tidak ada yang salah dengan hal itu. Tapi ada anjuran untuk:
1. Memberi dengan suka cita dan bukan paksaan 2 Kor 9: 7
2. mengumpulkannya pada orang yang layak (1 Kor 16: 3)
Mari kita lihat satu persatu. Memberi dengan suka cita. Saya yakin pembaca adalah orang yang taat ibadah, dan selalu memberikan persembahan dengan suka cita setiap minggu. Juga perpuluhan. Dan berbagai persembahan lainnya sesuai aturan gereja masing-masing.
Sewaktu saya mahasiswa saya pernah ibadah di sebuah gereja, tradisional. Gereja ini dalam tahap pembangunan fisik(setidaknya itu yang terlihat) saya yakin melihat pondasi dan tiang-tiang yang sudah berdiri akan membutuhkan dana yang cukup besar. Sebagai orang yang sangat jarang mengikuti ibadah(waktu itu) saya cukup terkejut, karena pengumpulan persembahan dilakukan sampai 5 kali dalam 1 ibadah. Seorang teman tertawa sambil nyeletuk, “kenapa lae? Gak usah kaget. Lihat aja ntar kotbahnya mau darimanapun ayat Alkitab yang diambil jadi kotbah hari ini pasti ujung-ujungnya bicara duit dan persembahan. Pasti ujung-ujungnya bicara 2 Kor 9: 6”. Waktu itu saya belum tau apa isi ayat tersebut. Jika pembaca belum tau silakan buka Alkitab anda. Ayat ini memang sering digunakan pengkotbah untuk memacu semangat jemaat untuk memberikan yang terbaik dalam persembahan. Dan saya salah satu yang tidak memberi dengan suka cita setidaknya dalam hari itu.
Yang menjadi masalah adalah ketika seorang pengkotbah membacakannya dengan motivasi yang salah, dan jemaat dengan pemahaman yang dangkal merasa terancam dengan ayat ini. Apakah Alkitab ditulis untuk mengancam? Karena takut menuai sedikit jadi saya harus memberi banyak-banyak. Maka motivasi memberipun jadi salah, karena memberi untuk mendapat lebih banyak adalah motivasi logis ekomoni artinya duniawi (gereja MLM?). Saya akan membatasi sampai disitu, untuk apakah itu dosa? Itu akan menjadi penilaian Tuhan.
Pemahaman yang salah dengan persembahan ini sebenarnya sudah dijelaskan oleh Yesus dalam Mark 12:41-44 dalam perikop persembahan seorang janda miskin. Tentu akan sulit mempersembahkan semua bekal yang kita punya bulan ini. Artinya gaji bulan ini kita serahkan semua, luar biasa jika ada yang melakukannya (buat yang kerja aja, yang pengangguran seperti saya akan lebih sulit lagi). Tapi apakah kita sudah memberi dengan kerelaan, tanpa motivasi menerima kembali? Perikop mungkin berkaitan erat dengan persembahan dalam bentuk diri utuh sebagai pelaku dan pembagi firman tanpa ketakutan, tetapi kali ini kita kaitkan dengan persembahan materi yang paling umum ada saat ini.(maaf jika salah saya menulis tanpa membaca tafsir)
Apakah kita seperti orang kaya dalam perikop ini? Menunjukkan persembahan kita yang besar agar mendapat pujian? Orang-orang yang haus pujian inilah yang dimanfaatkan pengkotbah-pengkotbah materialistis dalam membentuk gereja-gereja MLM, saya tidak akan bawa teologia sukses dalam ulasan ini. Mereka yang kaya adalah orang-orang benar, sehingga diberkati dalam kelimpahan. Kemungkinan besar ayat pamungkasnya adalah 2 Korintus 9:6, tentunya dengan pemahaman sempit. Dan orang-orang yang dahaga akan pujian-pujian semu akan terpuaskan ditempat ini. Dan yang terjadi kemudian mungkin ini yang sebut penyembahan berhala ego? Dan persaingan ego pun dimulai, minggu lalu si A sudah meninggalkan mobil alphardnya, kali ini aku akan serahkan kunci mobil hummer ini. Dan sipenjual ayat suci tertawa  girang “panen raya”.  Lihat perumpamaan Yesus tentang doa orang Farisi dan pemungut cukai:
Lukas 18:10-14 (TB)  "Ada dua orang pergi ke Bait Allah untuk berdoa; yang seorang adalah Farisi dan yang lain pemungut cukai.
Orang Farisi itu berdiri dan berdoa dalam hatinya begini: Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezinah dan bukan juga seperti pemungut cukai ini;
aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.
Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.
Aku berkata kepadamu: Orang ini pulang ke rumahnya sebagai orang yang dibenarkan Allah dan orang lain itu tidak. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."

Dengan demikian otomatis orang yang bersangkutan yang mendapat pujian. Artinya tujuan dasar persembahan itu sudah bergeser dari persembahan kepada Tuhan, menjadi persembahan pada si pemuas ego.
Dan orang-orang seperti ini akan sangat terpuaskan dengan ibadah-ibadah yang bisa memuaskan kehausan ego mereka. Mereka akan dipuji sebagai orang-orang yang benar sehingga diberikan kelimpahan. Dan pengangguran seperti saya mungkin kena cobaan karena berdosa. (Kq jadi baper ya)
Mungkin ini bentuk halus praktek Kanjeng Taat Pribadi dalam mode kristen?
Gereja-gereja merk baru bermunculan dianggap sebagai jawaban kebosanan jemaat pada ibadah yang itu-itu saja. Tidak ada yang salah dengan hal ini. Banyak orang yang berfikir tiap jaman punya jawaban sendiri soal kehidupan rohani.
Tapi hal ini juga dimanfaatkan oleh orang-orang yang jeli melihat kesempatan jualan ayat suci yang ekonomis. Pertama  jualan dari rumah kerumah dulu. Cari tempat jualan, dan buat merek. Tiap hari minggu koar-koar jualan ayat suci. Siapa menabur banyak menuai banyak. (Persis model MLM bukan?) Mungkin dia akan membaca ayat ini tanpa menganjurkan jemaat membaca perikopnya. Lukas 18:12 (TB)  aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku.
Untuk memahami segala sesuatu yang benar tentang persembahan dan tidak terjebak dalam praktek-praktek gereja MLM, kita kembali ke Alkitab. Ada banyak referensi tentang persembahan dalam kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Diantaranya.:
Memberikan yang terbaik
Kejadian 4:4 (TB)  Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya; maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya.
Imamat 27:26 (TB)  Akan tetapi anak sulung, yang sebagai anak sulung menjadi hak TUHAN dari antara hewan, tidak boleh dikuduskan oleh siapa pun, baik seekor lembu maupun seekor kambing atau domba, itu milik TUHAN.
Imamat 2:12 (TB)  Tetapi sebagai persembahan dari hasil pertama boleh kamu mempersembahkannya kepada TUHAN, hanya janganlah dibawa ke atas mezbah menjadi bau yang menyenangkan.
Amsal 3:9 (TB)  Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu.
macam-macam persembahan dan aturan-aturannya dalam ibadah bangsa israel Imamat, Bilangan banyak bicara soal ini.
Syarat dalam membawa persembahan
Matius 5:23-24 (TB)  Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,
tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.
Harus dengan harta yang diperoleh dengan jalan yang benar. Bukan hasil menipu, memeras, korupsi dan sebangsanya.
Matius 27:6 (TB)  Imam-imam kepala mengambil uang perak itu dan berkata: "Tidak diperbolehkan memasukkan uang ini ke dalam peti persembahan, sebab ini uang darah."
Belaskasihan adalah persembahan terbaik.
Matius 9:13 (TB)  Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan. Diulang dalam Matius 12.
Persembahan yang benar dan ibadah sejati
Roma 12:1 (TB)  Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. (Disarankan baca perikopnya secara utuh)
Dan banyak lagi lainnya.
Sekarang kita sudah memberi dengan suka cita dan kerelaan, apakah kita sudah mengumpulkannya pada orang yang bisa di percaya? Banyak diantara jemaat gereja, tidak peduli lagi kemana uang mereka digunakan oleh pengurus gereja. Yang penting saya sudah menyerahkannya dengan suka cita dan kerelaan kepada Tuhan melalui gereja, masalah selesai sampai disitu. Tapi Paulus mengatakan kumpulkan lah itu pada orang yang di anggap layak (1 Kor 16:3). Yang menjadi pertanyaan “haram” bagi sebagian besar jemaat gereja adalah apakah orang dalam organisasi pelayanan gereja itu sudah otomatis memenuhi kelayakan yang di minta Rasul Paulus? Mari kita teliti lagi gereja kita masing-masing.
Bagaimanakah yang layak itu? Rasul Paulus juga menjelaskannya.
1. Tidak mengambil keuntungan.
2 Korintus 2:17 (TB)  Sebab kami tidak sama dengan banyak orang lain yang mencari keuntungan dari firman Allah. Sebaliknya dalam Kristus kami berbicara sebagaimana mestinya dengan maksud-maksud murni atas perintah Allah dan di hadapan-Nya.
2. Tidak memuji diri sendiri
2 Korintus 3:1-2 (TB)  Adakah kami mulai lagi memujikan diri kami? Atau perlukah kami seperti orang-orang lain menunjukkan surat pujian kepada kamu atau dari kamu?
Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang.
3. Tidak berbuat licik, dan sembunyi-sembunyi
2Korintus 4:2 (TB)  Tetapi kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan; kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya kami menyatakan kebenaran dan dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah.
Yohanes 12:5-6 (TB)  "Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?"
Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya.
4. Tidak menakut-nakuti/mengancam
2 Korintus 10:8-9 (TB)  Bahkan, jikalau aku agak berlebih-lebihan bermegah atas kuasa, yang dikaruniakan Tuhan kepada kami untuk membangun dan bukan untuk meruntuhkan kamu, maka dalam hal itu aku tidak akan mendapat malu.
Tetapi aku tidak mau kelihatan seolah-olah aku menakut-nakuti kamu dengan surat-suratku.
5. Tidak mementingkan diri sendiri/menyusahkan orang lain
2 Korintus 11:9 (TB)  Dan ketika aku dalam kekurangan di tengah-tengah kamu, aku tidak menyusahkan seorang pun, sebab apa yang kurang padaku, dicukupkan oleh saudara-saudara yang datang dari Makedonia. Dalam segala hal aku menjaga diriku, supaya jangan menjadi beban bagi kamu, dan aku akan tetap berbuat demikian.  (Membaca perikop utuh disarankan)
6. Tidak mengutamakan persembahan.
Lihat perkataan Yesus yang sangat keras bagi yang mengutamakan persembahan. Matius 23:17-19 (TB)  Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, apakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu?
Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat.
Hai kamu orang-orang buta, apakah yang lebih penting, persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu? (Sangat disarankan membaca perikop ini secara utuh)
Mungkin pembaca berfikir bahwa saya menulis ini tentang gereja yang akhir-akhir ini banyak muncul dengan berbagai merek apalagi yang membawa-bawa teologi sukses. Sama sekali bukan hanya untuk itu, tapi banyak gereja yang sudah lama berdiri dan notabene dahulu oleh para pembawa kabar baik dari luar maupun dalam negeri membentuknya dengan motivasi murni Firman Yesus dalam Matius 28:19 (TB)  Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,.
Mari kita lihat gereja kita masing-masing apakah ada pergeseran motivasi dari para suci yang tergabung dalam tata kelola gereja fisik itu? Apakah gereja kita tiap bulan setor uang kepusat tapi tak pernah melihat selembar pun pertanggungjawaban dari mereka para suci yang sudah kita anggap layak mengumpulkan persembahan itu? Apakah kita sudah melihat hasil doa persembahan setiap minggu “berkatilah persembahan ini untuk meluaskan kerajaan Tuhan di bumi.” Atau gereja kita sudah dalam proses Kanjeng Dimasnisasi?  Atau kita akan tetap cuek merasa sudah melakukan bagian, dan bagian lainnya bagi mereka?
Setelah membaca ini mungkin pembaca akan melihat gambaran jawaban dari ketiga pertanyaan awal. Anda bebas dengan kesimpulan anda.
Apakah banyaknya gereja saat ini menjadi bukti berhasilnya Penginjilan. Atau banyak diantaranya adalah ilalang?
Apakah motivasi masih penyebaran Kabar Baik keselamatan atau, atau jadi penjual ayat suci?
Bagi pembaca kristen mungkin akan timbul berbagai macam perasaan. Jika anda merasa biasa saja dan bahkan tak peduli, mungkin anda harus lebih banyak ibadah di gereja.
Jika anda merasa panas dan di tuduh, ego anda yang menuduhnya. (Siapakah si penuduh itu?) mulailah dengan berdoa agar diberi ketenangan.
Jika anda merasakan hal yang sama tapi tak mengucapkannya, mari kita mulai meluruskan. Ratakan tanah bergelombang timbunlah tanah yang berlobang....

Syalom. Tuhan, memberkati.
Hainer Reinatus Hutapea

BTD

Tidak ada komentar:

Posting Komentar